Bukuâ Analisa Tentang Khataman Nabiyyin â adalah salah satu karya dari Jemaat Ahmadiyah Indonesia. Muhammad Sadiq berusaha mengungkapkan tentang kedatangan nabi sesudah Nabi Muhammad SAW dengan mengambil sumber dari al-Qurâan, hadits maupun pendapat dari para sahabat dan taâbiin. Ia berpendapat bahwa pintu
karenatelah meluluskan sebuah resolusi di Parlemen yang isinya kewajiban untuk menambahkan gelar Khatamun nabiyyin setelah menyebut nama Rasulullah (saw). Dengan mencukupkan dengan (shalat id) daripada shalat Jumat, maka itu cukup baginya, tetapi kami tetap shalat Jumat bersamaâ. HR. Abu Daud (1/647, no. 1073).
GuruBK atau Konselor merasakan bimbingan klasikal yang diberikan tidak berjalan seperti yang direncanakan terutama dari respon, kegairahan, dan antusias peserta didik mengikuti layanan. Guru BK atau Konselor akan melakukan penelitian, jenis penelitian yang tepat adalah? Penelitian Tindakan Penelitian Deskriptif Studi kasus Penelitian Eksperimen Semua jawaban
Muhammaditu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup nabi-nabi, dan adalah Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. (Al-Ahzab 33:40) Kemudian ada hadits yang selaras dengan surat Al-Ahzab di atas, â nabi terdahulu diutus kepada kaumnya secara khusus, sedangkan aku
Olehkarena itu, ada beberapa syariat Islam masuk ke dalam tradisi kebudayaan Betawi. Salah satunya adalah upacara khusus bagi anak-anak yang sudah menamatkan bacaan Al-Qurâan, atau biasa disebut khataman Qurâan. Upacara "Khataman Al-Quran" diselenggarakan dengan maksud menunjukkan rasa syukur serta rasa bangga dan bahagia, karena anak-anak
Islam(Arab: al-islÄm, ۧÙۄ۳ÙۧÙ
"berserah diri kepada Tuhan") adalah agama yang mengimani satu Tuhan, yaitu Allah.Agama ini termasuk agama samawi (agama-agama yang dipercaya oleh para pengikutnya diturunkan dari langit) dan termasuk dalam golongan agama Ibrahim.Dengan lebih dari satu seperempat milyar orang pengikut di seluruh dunia [1] [2],
Sepertiitu penjelasan definisi sebenarnya dari kata khataman. Semoga dengan ada penjelasan diatas dapat menambah wawasan dan pengetahuan anda mengenai kosa kata tersebut. Tentang. Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) ini merupakan KBBI Online yang dibuat untuk memudahkan pencarian, penggunaan dan pembacaan arti kata (lema/sub lema).
NabiMuhammad SAW adalah nabi terakhir yang diutus Allah SWT di muka bumi ini. Nabi Muhammad SAW mengemban tugas untuk menuntun manusia pada jalan yang benar, yaitu menyembah Allah SWT. Sebagai Nabi terakhir bagi seluruh umat muslim, Rasulullah SAW memiliki julukan Khataman Nabiyyin.
Parapengikut agama Ahmadiyah, dengan hawa nafsu mereka yang busuk mengartikan Khaataman nabiyyin adalah cincinnya para nabi. Sementara para ulama Islam mengartikannya sebagai penutup para nabi (jika dibaca khaatiman nabiyyin) atau nabi yang terakhir (jika dibaca khaataman nabiyyin sebagai mana teks di atas).
semua ahli tafsir mengakui bahwa arti âkhatamâ di ayat itu. Rasulullah saw pernah bersabda yang artinya: Source: rasulullah saw kemudian mendapat julukan khataman nabiyyin (۟ۧŰȘÙ
ۧÙÙŰšÙÙÙ) atau penutup para nabi dan rasul. âperumpamaanku dari para nabi adalah seperti seorang lelaki yang membangun rumah, dia memperindahnya
Bsqizv. Memaknai Ayat Khataman Nabiyyin 1 Saya coba mengulas salah satu Ayat pada Al-Ahzab tepatnya ayat 40 yakni mengenai Nabi Muhammad SAW apakah sebagai wakhaatama alnnabiyyiina ataukah walaakin rasuula allaahi wakhaatama alnnabiyyiina. Untuk menjelaskan kedua macam pendapat ini akan dikupas satu persatu ayat tersebut. Haruslah dimengerti, bahwa kedatangan AlQuran ke atas dunia adalah untuk menghilangkan segala macam perselisihan dan pertengkaran, dan untuk menghilangkan segala macam kesamaran dan keraguan yang mungkin timbul dalam kalangan ummat manusia, mari kita lihat baik-baik apa yang diterangkan sebelum dan sesudah ayat Khataman Nabiyyin. Perkataan âkhataman nabiyyinâ saja, belumlah dapat dibentuk satu kalimah yang dari padanya dapat dijadikan sebagai satu pengertian, atau satu kabar. Susunan perkataan âkhataman nabiyyinâ itu adalah murakab, yang dinamakan dengan âmurakab idhafiâ yang tidak dapat dijadikan sebagai hukum atau satu kejadian yang menjadi satu dalil. Satu mufrad singular yang belum menjadi kalimah sentence, dan hubungannya belum diÂnyatakan sebagai satu hukum atau undang-undang, tidak dapat dijadikan sebagai satu dalil oleh seseorang, dan tidak pula dapat dijadikan sebagai mukaddimab bagi sesuatu dalil. Yang benar ialah, supaya ayat itu disebutkan dalam bentuk keseluruhanÂnya, dibacakan sebelum dan sesudah ayat itu, dan ayat-ayat yang lain harus diperhatikan puÂla supaya bisa dimengerti untuk apakah perkataan âkhataman nabiyyinâ itu diletakkan dalam kalimat, dan apa maksudnya? Keseluruhan ayat itu berbunyi âMaa kana Muhammadun aba ahadin min rijalikum Walakin Rasulallah Wa khataman nabiyyin. Wa kanallahu bikuili syaiâin alimaâ. Ayat ini terdiri empat bagian 1 Maa kana Muhammadun aba ahadin min rijalikum. 2 Walakin Rasulallah. 3 Wa khataman nabiyyin. 4 Wa kanallahu bikuili syaiâin alima. Bagian pertama dari ayat ini sudah jelas dan sudah terang maksudnya, bahwa Muhammad itu bukanlah bapak dari salah seorang laki-laki kamu. Hubungan ayat ini dengan ayat yang sebelumnya, bahwa telah terjadi perkawinan Nabi Muhammad saw. dengan Zainabrta yang telah diceraikan oleh Zaid sebagai suaminya. Pada waktu sebelumnya Zaid itu telah diangkat sebagai anak oleh Nabi Muhammad SAW, sedangkan Zaid bukanlah berasal dari nutfah beliau dan hanya sebagai anak angkat saja. Disebabkan perkawinan beliau dengan bekas isteri anak angkat beliau itu, maka dikhawatirkan sangat, bahwa jangan-jangan menjadi satu celaan dari pihak lain, bahwa beliau telah mengawini menantu beliau yang tidak dibenarkan oleh adat orang-orang Quraish Arab di masa itu. âDan Dia tidak menjadikan anak-anak angkat kamu sebagai anak-anak kandung kamu. Yang demikian itu adalah omongan kamu dengan mulut kamuâ AlÂAhzab 5 Menyamakan anak angkat dengan anak kandung sendiri dalam segala hal, tidaklah dibenarkan Tuhan. Jangankan Zaid, sedangkan dari golongan laki-lakimu yang begitu banyak, seorang pun tidak ada yang menjadi anak dari Muhammad, dan beliau bukanlah bapak kamu. Kenapa Muhammad tidak bolen kawin dengan seorang janda yang sudah diceraikan oleh suaminya, apalagi Zaid itu bukanlah anak kandung dari Muhammad? Ini adalah penjelasan dari ayat bagian pertama. Perkataan âLakinâ dipergunaÂkan untuk menghilangkan keraguan yang timbul pada kalimat yang sebelumnya. Bagian kedua dari ayat tadi âwalakin RasulaIlahâ tetapi adalah utusan Allah. Dalam bagian ayat ini terdapat perkataan âlakinâ yang artinya âtetapiâ. Selamanya perkataan âlakinâ dipergunakan untuk menghilangkan sesuatu kesamaran atau keraguan yang timbul dalam kalimat yang sebelumnya. Dalam Muslim Isubut diterangkan tentang perkataan âlakinâ begini âLakin khafifatan wasÂtaqilatan lil istidraki. Wahua rafâut tawahhunii nasyi-u anisÂsabiqi. Wasyartuhul ikhtilafu kaifan wa maânanâ. âLakinâ itu baik ia khafifah atau staqilah, adalah gunanya untuk istidrak. Yang dikatakan istidrak, yaitu menghilangkan keraguan yang terjadi dalam kalimat yang sebelumnya. Dan syaratnya adaÂlah berlawanan dalam segi kaifiat dan makna. Dalam kitab Syarah Jami diterangkan âWa lakin lil istidraki. Wamaânal istidraku rafâu tawahhamu yatawalladu minal kalamil mutaqaddamu tawassatu baina kalamaini mutaghayyaraini nafyan wa isbatan maânan ai taghayyuran maânawiyyan. Waddaruriyyu hua limaâ nawiyyinâ. âLakinâ itu gunanya untuk istidrak. Yang dikatakan istidrak, ialah menghilangkan keraguan yang timbul atau terjadi pada kalimat yang sebelumnya. Ia terletak diantara dua buah kalimat yang berlainan dalam hal mengiakan dan menidakkan menurut arti dan makna, dan yang terpenting dalam segi makna. Dalam kitab Tahzibut Taudhih juz pertama, halaman 79 ada tertulis âLakin wahia lil istidraki. Wahua taâqibul kalam binnafyi ma yatawahhamu tsubutuhu au bi itsbati ma yatawahhamu nafyuhu. Famitsalul awwali Aliyyun syujaâun lakinnahu bakhilun. Rufiâat bilakin tawahhamu annahu karimum limulazimatil karamusy syujaâah. Wamitsasus tsani qauluka Ibrahimu jubbanun, lakinnahu karimum. Atsbata bihal karamul lazi yatawahhamu nafyuhu min itsbatil jubnuâ. âLakinâ itu gunanya untuk istidrak. Ia mengiringi kalimat dengan nafi apa yang diragukan oleh tsubutnya. Atau meitsbatkan menetapkan apa yang diragukan oleh nafinya tidaknya. Misal yang pertama seperti Si Ali orang berani, tetapi, ia kikir. Dengan perkataan âlakinâ, maka hilanglah sangka-sangka yang menganggap ia seorang yang pemurah, karena menurut yang biasa, apabila ada sifat keberanian, sudah barang tentu mesti ada sipat pemurah. Misal kedua Ibrahim seorang pengecut, tetapi ia pemurah. Dengan perkataan âlakinâ maka hilanglah syak wasangka buruk yang terdapat pada perkataan pengecut. Dan sekarang ia menjadi orang yang terhormat. Tentang ayat yang bersangkutan. Sekarang datang pertanyaan, keraguan apakah yang terjadi dalam ayat âma kana Muhammadun aba ahadin min rijalikumâ, yang menyebabkah perlu didatangkan perkataan âlakinâ sesudahnya? Untuk menjawab pertanyaan itu, adalah; 1 Jika benarlah nabi Muhammadsaw bukan bapak dari salah seorang laki-laki, tetapi kenapa ayat 6 dalam surat Al-Ahzab ini juga mengatakan âWa azwajuhu ummahatukumâ Isteri-isteri Muhammad adalah ibu kaum? Kalau semua isteri Nabi Muhammad sudah menjadi ibu, sudah tentu beliau sendiri sudah menjadi bapak. Tetapi tentang beliau menjadi bapak, ditidakkan dan dibatalÂkan oleh ayat âma kana Muhammadun aba ahadin min rijaÂlikumâ Muhammad itu bukanÂlah bapak dari salah seorang lakiÂlaki kamu. Apakah ini tidak menjadi satu keraguan? Apakah itu tidak satu pertentangan, atau satu kontradiksi, atau satu taâarrudh namanya. Tidakkah ini menjadi satu celaan pula terhadap Quran? Apakah ini tidak bertentangan dengan ayat âLa raiba fihi hudan lil muttaqinâ? Jika benarlah Nabi Muhammad itu tidak boleh dipanggilkan seÂbagai bapak karena beliau tidak mempunyai seorang anak lakiÂlaki pun yang hidup sampai dewasa, dan tidak boleh pula seorang laki-laki pun menisbahkan membangsakan dirinya kepada Nabi Muhammadsaw, tentu tidak benar pula apa yang difirmankan Tuhan terhadap musuh beliau âInna syaniaka hual abtarâ Yang putus keturunannya ialah musuh-musuh engkau. Kalau Nabi Muhammad tidak boleh dikatakan bapak, maka samalah nasib beliau dengan nasib musuh beliau sama-sama tidak mempunyai keturunan lagi. Meskipun beliau ada mempunyai anak perempuan, tetapi itu tidaklah masuk bilangan dan yang dihitung adalah anak laki-laki. Jalan Keluar Sebagai jalan keluar dari persoalan yang rumit musykil ini, untuk menghilangkan segala macam keraguan itu, maka didatangkanlah perkataan âlakinâ dan di belakang perkataan âlakinâ disusulkan perkataan ârasulullahâ. Kenapa disusulkan oleh perkataan ârasulullahâ dan apakah hikmahnya? Untuk menjawab pertanyaan ini, marilah simak apa yang dikatakan oleh yang Hadhrat Nawab Siddiq Hasan Khan dalam tafsir Fathul Bayan yang keterangannya dikutip dari Nafsi. Dalam Nafsi diterangkan âWakullu rasulin abu ummatihi fima yarÂjiâu ila ujubit tauqiri lahu alaiÂhim. Wawujubisy syafqati wanÂnasihati lahum alaihiâ. Telah berkata Nafsi Dan tiap-tiap rasul itu adalah bapak bagi ummatnya. Wajib bagi ummat menghormati dan memuliakanÂnya. Dan wajib pula bagi nabi berlemah lembut dan menasehati mereka. Dalam Jamal Syarah Jalalain ada tertulis âWakullu rasulin abu ummatihiâ. Dan tiap-tiap rasul itu adalah bapak ummatÂnya. Tersebut dalam Tafsir Khazin, jilid 5, halaman 219 âInna kulÂlu rasulin hua abu umatihiâ. Tiap-tiap rasul itu adalah bapak bagi ummatnya. Penjelasan Dengan mendatangkan perkataan ârasulullahâ sesudah perÂkataan âlakinâ sekarang mulalah cerah cuaca gelap yang ditimbulkan oleh hal tidak diakuinya Nabi Muhammad saw. oleh Tuhan sebagai bapak dari salah seorang laki-laki, karena bapak yang dimaksud oleh ayat âma kana Muhammadun aba ahadin min rijalikumâ, adalab bapak secara jasmani dan bukan bapak secara rohani. Bahwa beliau sebagai bapak rohani, tetap diakui, karena beliau adalah seorang Rasul Allah dan Rasul Allah itu, adalah bapak dari umatnya, yaitu bapak rohani. Tambahan lagi ayat 7 yang mengatakan âwa azwajuhu ummaÂhatukumâ semua isteri beliau adalah ibu mereka, yaitu ibu bagi orang-orang mukmin, yang dimaksudkan ibu disini adalah ibu rohani, bukan ibu jasmani. Dengan penjelasan ini, maka maksud bagian kedua dari ayat âma kana Muhammadunâ tadi sudah jelas sekarang, yaitu 1Bahwa Nabi Muhammad itu bukanlah bapak menurut arti jasmani, tetapi beliau adalah bapak dalam arti rohani. 2Isteri-isteri beliau kesemuanya bukanlah ibu dalam arti jasmani, tetapi beliau itu adalah ibu dalam arti rohani pula. Dengan jalan begini, tidak ada kontradiksi lagi antara ayat 7 dengan ayat 41. Dengan keterangan ini, hilanglah semua keraguan serta kesamaran yang timbul pada ayat âma kana Muhammadun aba ahadin min rijalikumâ dan semua keraguan serta kesamaran itu dilenyapkan oleh perkataan âlakinâ yang dipergunakan untuk istidrak. Tafsir ayat bagian ketiga Bagian ketiga dari ayat tadi adalah âkhataman nabiyyinâ. Orang-orang mengatakan bahwa âkhataman nabiyyinâ itu adalah penutup nabi-nabi, penghambat bagi kedatangan nabi, nabi yang penghabisan, nabi yang terakhir, penutup rantai kenabian dlsb. Sekarang marilah kita periksa, apa arti yang sebenarnya dari âkhataman nabiyyinâ itu, apakab hubungan antara ayat ini dengan ayat yang sebelumnya. Kalau ayat âkhataman nabiyÂyinâ itu diartikan dengan arti yang tersebut di atas, adakah ia sesuai menurut mahal atau tempat? Perkataan âkhataman naÂbiyyinâ bukanlah satu kalimat atau sentence yang dapat dikatakan, bahwa ia dengan secara langsung dipergunakan untuk menjawab satu pertanyaan, dan ia mempunyai satu pengakuan. Tetapi ia adalah satu mufrad atau singular yang tanpa hubungan dengan yang sebelumnya tidak mempunyai arti apa-apa. Dan untuk satu hukum, ia tidak dapat menentukan. Sekarang yang harus kita perhatikan, apakah ia terpisah letaknya dalam kalimat, ataukah ia terikat dengan kalimat yang sebelumnya. Perhatikanlah tentang wawâathaf Untuk mengetahui bahwa perkataan âkhataman nabiyÂyinâ itu bukanlab satu kalimat atau sentence yang berdiri sendiri, dan ia mempunyai hubungan dengan kalimat yang sebelumnya, adalah mudah sekali, karena sebelum perkataan âkhataman nabiyyinâ terdapat satu huruf yang disebut huruf athaf, yaitu waw. Huruf athaf ini kerjanya untuk menyatukan, atau untuk memperhubungkan antara satu bagian kalimat atau satu perkataan dengan bagian kalimat atau dengan perkataan lain dalam sebuah kalimat, yang dalam grammar bahasa Inggeris dapat disebutkan conjuction. Perkataan atau bagian kalimat yang terletak di belakang âwawâ ini tidak dapat memiÂsahkan diri dari perkataan atau kalimat yang terletak sebelumnya. Di waktu kalimat itu berbentuk satu jumlah sekalipun, yang ada mempunyai tanggung jawab, ia tidak dapat mengasingkan dirinya dari kalimat sebelumnya, konon pula lagi ketika ia berbentuk mufrad atau singular. Ringkasnya, sebelum perkataan âkhataman nabiyyinâ ada âwawâ yang dikatakan huruf athaf. Arti athaf ialah memalingkan dan mengembalikan. Huruf athaf adalah satu huruf yang memalingkan atau mengembalikan. Kalimat atau perkataan yang terletak di belakangnya dinamai ââMaâthufâ, dan kalimat atau perkataan yang sebelumnya dinamai âmaâ thuf alaihâ. Huruf âwawâ memutar kalimat atau perkataan yang di belakangnya dan mempersatukannya dengan kalimat atau perkataan yang sebelumnya. Keadaan apa yang terjadi pada kalimat atau pada perkataan yang sebelumnya, jadi pula pada kalimat atau perkataan yang ada di belakangnya, dan hukum kedua kalimat itu diÂsatukannya, yakni kedua kalimat itu dijadikannya menjadi satu corak. Apa yang dinisbahkan kepada yang pertama, dinisbahkannya pula kepada yang kedua. kita ambil contoh sebuah misal, yaitu âJa-a ZaiÂdun waâ Umarunâ Telah datang si Zaid dan si Umar. Antara perkataan Zaid dan Umar, terdapat huruf âwawâ yang dinamakan huruf athaf dan arti âwawâ itu âdanâ. Maksud dan fungsi âwawâ itu mengembalikan, membalikkan, memutar Umar kepada Zaid. Kedua-duanya, Zaid dan Umar, sama-sama dijadikan berkongsi dalam satu pekerjaan, yaitu datang. Sebagaimana kerja Zaid âdatangâ, begitu pula kerja Umar âdatangâ. Pekerjaan âdatangâ adalah perbuatan Zaid dan Umar. Satu misal lagi âDharabtu Zai dan wa Umaranâ Saya telab memukul Zaid dan Umar. Dalam kalimat ini penanggungan Zaid dan Umar adalab sama, yaitu sama-sama kena pukul. Tidaklah mungkin Zaid saja yang kena pukul, sedangkan Umar tidak. Tegasnya huruf âwawâ adalah semacam huruf yang menyatukan hukum antara kalimat atau perkataan yang di belakangnya dengan kalimat atau perkataan yang sebelumnya. Tidaklah bisa jadi dan tidaklah mungkin, bahwa atau perkataan yang sebelumnya lain maksudnya, dan kalimat atan perkataan yang di belakang lain pula maksudnya. Sekarang marilah perhatikan ayat khataman nabiyyin bagian ketiga dari pembagian tadi, dan apakah hubungannya dengan ayat wa lakin rasulullah, yang termasuk dalam bagian kedua dari ayat itu? Oleh karena antara ayat rasulullah dan ayat khataman nabiyyin terdapat âwaw athafâ yang mengembalikan dan yang mempertemukan perkataan khataman nabiyyin dengan perkataan rasulullah, maka untuk apa perkataan rasulullah itu dipergunakan, untuk itu pulalah perkataan khataman nabiyyin itu dipergunakan. Tidaklah mungkin bahwa perkataan rasulullah itu dipergunakan untuk suatu maksud tertentu, tetapi perkataan khataman nabiyyin datang untuk membatalkan maksud itu. Sudah pastilah., bahwa apa yang sedang ditentukan oleh perkataan rasulullah, dikuatkan oleh perkataan khataman nabiyyin. Dalam uraian di atas tadi sudah diterangkan, bahwa perkataan rasulullah yang terdapat pada ayat yang sedang dibicarakan gunanya adalah untuk menyatakan, bahwa Nabi Muhammad saw. adalah seorang bapak dalam segi kerohanian, yaitu beliau adalah bapak bagi keseÂluruhan orang-orang mukmin. Manakala sudah jelas apa yang dimaksudkan oleh perkataan rasulullah, yaitu bapak rohani, sudah pasti bahwa kedatangan perkataan khataman nabiyyin dalam ayat ini adalah gunanya untuk menyempurnakan maksud dari perkataan rasulullah itu. Satu hal yang tidak mungkin, bahwa kepada maâthuf alaih dinisbahkan satu ketentuan yang tertentu, tetapi kepada maâthuf dinisbahkan hal yang lain. TiÂdaklah mungkin, bahwa apabila dikatakan âJa-a Zaidun wa Umarunâ telah datang si Zaid dan si Umar, terhadap Zaid dinisbahkan perkataan datang, tetapi terhadap si Umar dinisbahkan perkataan duduk. Wallauhuaâalam BerÂsambung.
Masroor Library â Muhammad SAW bukanlah bapak salah seorang diantara kaum laki-lakimu, akan tetapi ia adalah Rasul Allah SWT dan materai/stempel/mensahkan sekalian nabi, dan Allah SWT itu Maha Mengetahui segala sesuatu Al-Ahzab[33] 40/41 Telah menjadi kenyataan perselisihan arti dari ayat tersebut di atas kini sudah mencapai titik rawan cap kafir, sekalipun Rasulullah SAW telah bersabda bahwa, âBarang siapa memanggil atau menyebut seseorang itu kafir atau musuh Allah, dan sebenarnya bukan demikian, maka ucapan itu akan kembali kepada orang yang menyatakan itu. Bukhari. Mengenai ciri-ciri orang Islam, beliau SAW. bersabda âBarang siapa sembahyang seperti kami, dan menghadapkan wajahnya ke kiblat kami, dan makan makanan yang kami sembelih, maka ia itu seorang Muslim.Bukhari. Maka di bawah ini kami sajikan secara ringkas arti yang sebenarnya dari ayat tersebut, menurut Rasulullah SAW, para wali dan para ulama tempo dahulu, sbb. âKhatamâ berasal dari kata âKhatamaâ yang berarti âIa memeterai, mencap, mensahkan, atau mencetakkan pada barang ituâ. Inilah arti pokok kata âkhatamâ itu. Adapun arti kedua kata âkhatamâ ialah âIa mencapai ujung benda itu, atau melindungi apa yang tertera dalam tulisan dengan memberi tanda atau cap di atasnya, atau dengan meterai jenis apapunâ âKhatamâ berarti juga âsebentuk cincin stempel, sebuah segel atau meterai dan sebuah tandaâ. Kata itu pun berarti âhiasan atau perhiasan, terbaik atau paling sempurnaâ Lane, Mufradat, Fat-h dan Zurqani. Jadi kata âKhataman-nabiyyinâ berarti âMaterai pada nabi yang terbaik dan paling sempurna dari antara nabi-nabiââŠâhiasan dan perhiasan nabi-nabi, baik yang sudah-sudah maupun yang akan datangâ Dalam hadits Qudsi kesempurnaan Rasulullah SAW itu diterangkan sebagai berikut Artinya âJika Tidak Karena kau hai Muhammad, Kami tidak akan membuat bumi, langit dengan seisinya ini !â Itulah arti âKhataman-nabiyyinâ yang sesungguhnya, bahwa âRasulullah SAW adalah NABI YANG PALING SEMPURNA !â Dalam Kanzul Umal jilid II Rasulullah SAW bersabda, âSesungguhnya Aku tertulis di sisi Alku sebagai Khatamannabiyyin dan sesungguhnya Adam dalam keadaan campuran air dan tanahâ. Jelas maksudnya adalah âkesempurnaanâ bukan penutup, karena sejak Adam AS sampai kini sudah ribuan Nabi datang ke dunia ! Jadi maksudnya bahwa, âRasulullah SAW telah mencapai ketinggian dan martabat kenabian yang paling tinggi, yang tidak dapat dicapai oleh manusia lainnya !â Dan menurut ungkapan bahasa Arab, baik yang dipergunakan oleh Rasulullah SAW maupun oleh para ulama tempo dahulu, demikian pula dalam pemakaian bahasa sehari-hari, bahwa, bila kata âkhatamâ di-mudaf-kan di- rangkaikan dengan kata yang berbentuk jamaâ banyak/orang banyak, dan dipakai dalam âmaqam pujianâ maka orang termaksud dalam ungkapan itu, harus merupakan yang âpaling tinggi dan paling afdolâ dari sejumlah orang yang tersebut belakangan mudafilaih. Contoh 1. KanzulUmaljuz. VI. 178 âtenangkanlah hatimu wahai Umar, sesungguhnya engkau adalah khatam orang- orang yang berhizrah, seperti aku adalah khatam Nabi-nabi. 2. Tafsir Saf i S. Ahzab âAku adalah khatam Nabi-nabi dan engkau wahai Ali khatam wali-waliâ 3. Abu Taman Syair disebut Khatamasy- syuara Wafiyyatil ayan jld. 1 4. Hazrat Imam Sayuti disebut Khatamul-Muhaqiqqiin Tafsir lttiqan 5. Hazrat Syaikh Waliullah Dehlawi disebut Khatamal-Muhaddasiin U jala Nafi. jld. 1 6. Syaikh Rasyid Riza Misri disebut Khatamal Mufasiriin A Uamiatul Islamiah 9 Jomadas sanilJ54H. 7. Al Syaikh Syamsuddin disebut Khatamatal- Huffazi At Tajridus Srih, Muqadimah H. 4 8. Imam Muhammad Abduh Misri disebut Khatamal-Aimmati Tafsir Al-Fatiha H. 148 9. Manusia disebut Khatamal-Makhluqati-Jasmania Tafsir Kabir jld. Matbua-Misr. 10. Rasulullah Khatamal- Kamiliin Hujjatul- Islam H. 35 11. Hazrat Isa Khatamal Asfia Al-AimmatiBaqiyyatul Mutagaddimiin H. 184 Kesemuanya contoh-contoh di atas, sesuai dengan faktanya berarti tersempurna bukan penutup. Untuk lebih jelasnya arti Khataman-Nabiyyin itu adalah sbb. I. Rasulullah SAW. adalah meterai para nabi, yakni, tiada nabi yang dapat dianggap benar, kalau kenabiannya tidak dimateraikan Rasulullah, dan juga tiada seorangpun yang dapat mencapai kenabian sesudah beliau, kecuali dengan menjadi pengikut beliau. 2. Rasulullah SAW. adalah yang terbaik, termulia dan tersempurna dari semua nabi. Dan juga menjadi, sumber hiasan bagi mereka Zurqani, Syarah Muwahib-al-Laduniyyah. 3. Rasulullah SAW adalah nabi yang terakhir pembawa syariâat. Penafsiran ini diterangkan oleh para ulama terkemuka, orang-orang suci dan Waliullah seperti Ibnu Arabi, Syekh Waliullah, Imam Ali Qari, Mujadid Alf Tsani, dll. Menurut beliau-beliau itu, nabi yang tidak dapat datang sesudah Rasulullah SAW itu ialah yang memansukhkan membatalkan millah beliau, atau yang datang dari luar umat beliau ! Futuhat, Tafhimat, Maktubat dan Yawakit wal Jawahir. Sedang nabi yang akan meneruskan missi beliau, malah beliau sendiri menjanjikan, bahwa akan datang Nabi Isa yang dijanjikan yang akan datang dari umat Islam sendiri Bukhari. Itulah arti yang sebenarnya dari KHATAMAN -NABIYYIN. Jelas, Kebalikannya dari pada itu, jika dari antara murid beliau samasekali tidak akan ada yang dapat mencapai pangkat kenabian, malah dikalangan umat beliau rusak, untuk memperbaikinya terpaksa mendatangkan nabi kaum lain, itu bukan kemulyaan malah, âŠ.naâudzubillah⊠kerendahan bagi beliau ? Coba perhatikan ayat-ayat Al-Qur-an ini 1. Surat Al-Fatihah, 2. An-Nisa [4] 69[70] 3. Al-Hajj [22] 75[76] 4. Al-Araf[7] 35[36] 5. Al Baqarah[2] 134[135] 6. Ali-Imran [3] 81-179[82-180] 7. Al-Ahzab [33] 7-8[8-9];46-47[47-48] 8. Bani Israil [17] 15[16]; 58[59] 9. Al-Muâminun [23] 50[51] 10. Al-Mumin [40] 34[35] 11. Al-Jin [72] 7[8] 12. Al-Maidah [5] 3[4] 13 Ash-Shafaat [37] 72[73] Ayat-ayat tersebut menunjukkan bahwa pintu kenabian masih terbuka sampai hari Qiamat, jadi tidak mengizinkan mengartikan Khatamannabiyyin bertentangan dengannya ! BISA JADI DALAM MENGARTIKAN KHATAMAN NABIYYIN INI, TERPENGARUH OLEH HADITS yang ber- bunyi LA NABIYYA BAâDA ? Maka sebagai jawabannya periksalah hadits ini. Dan perhatikanlah pula sabda Hazrat Aisyah RA ini. Tafsir Durri Mansur Suyuti jld. 5 h. 204 dan Takmilah Majmaul Biliar. H. 75. Dan mungkin terpengaruh juga oleh hadits ini Artinya Aku adalah nabi terakhir dan masjid-ku adalah masjid terakhir ? Maksud hadits ini ialah, bahwa RASULULLAH SAW itu NABI yang PALING MULIA, sebagaimana masjid beliau di Madinah adalah yang paling mulia, BUKAN PENUTUP⊠kenyataannya sampai sekarang di seluruh dunia ratusan ribu masjid dibangun terus. Dan harus diperhatikan pula, bahwa baik urusan dunia maupun agama atau ilmu bahasa tidak ada peraturan yang menetapkan bahwa yang datang akhir itu yang mulia. Sedangkan banyak sekali ulama umat Islam yang mengakui kenabian tanpa syariâat sesudah Rasulullah SAW. Nama-nama beliau-beliau sbb. 1. Hasrat Aisah RA wafat 58 H 2 Imam Fahruddin Razi RH, wafat 606 H 3 Hazrat Syaikh Fahruddin Attar, wafat 620 H 4 Imam Muhyiddin Ibnu Arobi RH, wafat 638 H. 5. Maulana Ruum RH wafat 672 H 6 Hazrat Sayyid Abdul Karim Jailani RH wafat 767 H 7 Allamah Ibnu Chaldun, wafat 809 H 8 Imam Muhammad Tahir RH, wafat 986 H 9 Imam Abdul Wahab Syaârani RH wafat 976 H 10 Imam Mulia Ali Qari, wafat 1014 H 11 Hazrat Shah Waliullah Muhaddas Dehlawi wafat 1176 H 12 Hazrat Mujaddid Alif sani syaikh Ahmad Serhindi RH wafat 1034 H 13 Maulana Muhammad Qasim Nanotawi, Pendiri Madrasah Dey Band India wafat 129 H 14 Nawab Siddiq Hasan Khan Bupalawi wafat 1307 H Maka adalah kewajiban seluruh kaum Muslimin untuk memperhatikan dan merenungkan arti KHATAMAN-NABIYYIN ini, untuk TIDAK MEMBERIKAN ARTI YANG BERTENTANGAN DENGAN AYAT-AYAT AI-QURâAN lainnya, dan bertentangan dengan peraturan bahasa Arab dan bahasa-bahasa yang ada di dunia, dari pada memulyakan malah merendahkan derajat Rasulullah SAW ! Mudah-mudahan Allah SWT. memberi taufik dan hidayah kepada segenap kaum Muslimin, untuk dapat menerima karunia berkat dan rahmat-NyaâŠ.Aamiin⊠Penulis NN Artikel sebelumnya tentang Tafsir Khataman Nabiyyin
Arti Khataman Nabiyyin - Oleh Mahmud Ahmad Cheema - Jemaat Ahmadiyah Indonesia. Muhammad Saw bukanlah bapak salah seorang diantara kaom laki-lakimu, akan tetapi ia adalah Rasul Allah dan materai sekalian nabi, Dan Allah itu Maha Mengetahui segala sesuatu. [ Quran , 3340 ]