ArusBalik Arus Balik yang berlatarkan sejarah menjadi salah satu karya Pram yang digandrungi. Setebal 760 halaman, novel Pram itu menceritakan kejayaan nusantara di zamannya. Pram tetap menyuarakan persoalan kaum kecil dan tertindas. Sama halnya dalam novel Gadis Pantai, Pram ingin membongkar tradisi feodalisme yang ada dalam budaya Jawa
Puncak arus balik kemungkinan besok (hari ini) dari sore sampai malam," kata Dirlantas Polda Metro Jaya Kombes Sambodo Purnomo Yogo saat dihubungi, Sabtu (2/12/2020).
PramoedyaAnanta Toer, Politik, & Sastra: Kajian Politik Jawa dalam Novel Arok Dedes dan Arus Balik, oleh Anandito Reza Bangsawan (Media Pressindo, 2017). Indonesia Tidak Hadir di Bumi Manusia: Pramoedya, Sejarah, dan Politik, oleh Max Lane (Djaman Baroe, 2017). Suatu Hari dalam Kehidupan Pramoedya Ananta Toer, oleh Alfred D. Ticoalu (Epigraf
ResensiNovel Jentera Bianglala - Ahmad Tohari; Resensi Novel : Ronggeng Dukuh Paruk (Ahmad Tohari) Quotes paling memorable dari Harry Potter Series; Quotes "Legend" dari Vampire Academy Series; Aku Suka Senja (Sepotong kata tentang senja) SINOPSIS dan RESENSI NOVEL HUJAN Karya Tere Liye; Resensi Novel Hex Hall; Resensi Novel Vampire Academy
Karena novel ini sedikit saja menyinggung soal pergesekan antara kesenian tradisional dan arus modernitas dengan instrumen kemajuan teknologi yang menyebabkan tergerusnya kesenian tradisonal—dalam konteks novel ini sandiwara keliling. Tidak menjadikan pergesekan tersebut sebagai pemicu konflik.
Karmayang datang di novel ini adalah ditangkapnya serta dijebloskannya Arimbi ke balik jeruji besi. Dari bagian tersebut, Okky Madasari mencoba membuka tabir kehidupan baru yaitu dijalankannya pengedaran narkoba dari dalam sel. Penulis yang seorang wartawan ini pula menceritakan bagaimana barang terlarang itu dapat masuk, diolah, dan dikemas
Belikoleksi Buku Arus Balik online lengkap edisi & harga terbaru April 2022 di Tokopedia! ∙ Promo Pengguna Baru ∙ Kurir Instan ∙ Bebas Ongkir ∙ Cicilan 0%.
InfoBuku: Judul: Dhaeng Sekara . ISBN: - . Penulis: Agus Sunyoto . Penerbit: DIVA Press . Rilis: Oktober 2010 "Dhaeng Sekara" merupakan salah satu dari dua novel sejarah karangan Agus Sunyoto bertema sejarah Majapahit selain "Mahapatih Mangkubhumi Majapahit Pu Gajah Mada".Terbit pada medio 2010 silam, pengarang serial Syekh Siti Jenar memakai konten khusus bagi novel lawasnya
Resensibuku Arus Balik, Pramoedya Ananta Toer Senin, 24 Agustus 2015 08:00 WIB Oleh Muhammad Roqib Oleh Muhammad Roqib Seorang teman yang baik hati, Andhika Rakhmanda, mahasiswa Fakultas Perikanan Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, mengirimi saya dua buku menarik yang berkisah tentang potensi kelautan kita yang luar biasa.
Kaliini Gua sendiri akan meresensi bukunya yang berjudul Arus Balik, yang sebernanya merupakan Tetralogi 4 novel lainya (Arok Dedes, Arus Balik, Mangir, dan satu naskah yang masih hilang). Novel ini mengisahkan sebuah arus yang berbalik, setelah keruntuhan kerajaan Majapahit (1478 M) membuat Nusantara yang dahulunya merupakan mercusuar dari Selatan dan membawa arus ke arah Utara, akhirnya harus menerima kenyataaan bahwa arus telah berbalik.
mxMhnds. Pernah baca novel karya Pramoedya Ananta Toer yang satu ini? Arus Balik masih mengisahkan sejarah Indonesia yang masih berbentuk kerajaan-kerajaan. Penasaran dengan karya keren ini? Kamu perlu membaca resensi novel Arus Balik di artikel ini terlebih dahulu. Karena di artikel ini akan di bahas mengenai identitas novel, sinopsis, intrinsik, ekstrinsik, kelebihan dan kekurangan juga pesan moral yang terkaadung dalam novel tersebut. Simak yuk! Identitas Novel Arus Balik Judul NovelArus BalikPenulisPramudya Ananta ToerJumlah halaman760 HalamanUkuran buku13×21 cmPenerbitHasta MitraKategoriFiksi SejarahTahun Terbit1995Harga novelRp. Novel karya Pramoedya Ananta Toer ini memiliki 760 halaman dan pertama kali di terbitkan pada tahun 1995 dan diterbitkan oleh PT Hasta Mitra. Novel yang mengisahkan Bumi Nusantara pada awal abad XVI. Dengan tokoh utama Wiranggaleng yang merupakan pemuda biasa yang ikut berjuang dalam invasi ke Malaka yang di pimpin oleh Pati Unus. Sinopsis Novel Arus Balik Novel Arus Balik ini mengisahkan pemuda desa yang berasal dari keturunan rakyat biasa. Yaitu Idayu dan Galeng Wiranggaleng. Dan di desanya ia sering mendengarkan Rama Cruling yang selalu ceramah tentang kemerosotan dan persatuan nusantara. Materi yang diangkat Rama Cruling akhirnya menjadi malapetaka buatnya dimana ia di racun oleh kepala desa. Sebelum meninggal Idayu dan Galeng lah yang merawatnya. Karena di Tuban sedang ada perlombaan mereka berdua menjadi kandidat yang selalu menang dalam 2 kali perlombaan sebelumnya. Dan kepala desa mengajukan mereka. Awalnya menolak namun setelah di ancam akhirnya mereka mengiyakan. Dan akhirnya mereka menjadi pemenangnya kembali dimana Idayu sebagai Penari terbaik dan Galeng menjadi juara gulat. Sebagai juara 3 kali berturut-turut Idayu terkena aturan khusus yaitu harus menjadi selir Adipati. Hal itu membuat Idayu dan Galeng sedih. Namun, sebagai juara mereka diperbolehkan mengajukan permintaan. Dan Idayu meminta ingin menikah dengan Galeng. Adipati murka namun menahan amarahnya karena tahu mereka sedang di sanjung rakyat karena kemenangan itu. Dan akhirnya mereka menikah di Kadipaten Kerajaan sebagai pengantin kerajaan. Tak lama setelah itu Galeng diangkat jadi Syahbandar Muda Tuban. Lalu bagaimana kelanjutan keseruan Galeng memperjuangkan Adipati, bangsa dan negaranya? Baca novel Arus Balik yuk! Unsur Intrinsik Novel Arus Balik Dalam resensi novel Arus Balik terdapat unsur intrinsik yang membangun di dalamnya yaitu 1. Tema Tema yang diangakat dalam novel Arus Balik yaitu tentang perjuangan pemuda biasa untuk Adipati, kerajaan dan bangsanya. 2. Tokoh dan penokohan Wiranggaleng, ia merupakan tokoh utama dalam novel yang memiliki sikap pekerja keras, pemberani, dan juga pintar. Iday, ia merupakan istri dari Wiranggaleng yang cantik dan pandai menari. Rama Cruling, seorang guru pembicara yang kerjanya berpetualang dan berbicara di setiap tempat singgahnya. Adipati Arya Teja Tumenggung Wilwatikta, ia memiliki sifat licik dan ambisius. Adipati Unus, merupakan adipati yang pemberani dan bertanggungjawab. Patih Senapati, tidak memiliki semangat dan penakut. Dan masih banyak lagi yang lainnya 3. Alur Alur yang digunakan dalam novel ini yaitu alur campuran dimana terdapat alur maju dan alur mundur di dalam novelnya. 4. Latar Waktu Latar waktu yang digunakan dalam novel ini yaitu pagi, siang dan malam hari. 5. Latar Tempat Latar tempat yang digunakan dalam novel Arus Balik yaitu di Kadipaten Kerajaan, Desa Ranceg, Tuban, Demak, Malaka dan masih banyak lainnya. 6. Sudut Pandang Sudut pandang yang digunakan dalam novel Arus Balik adalah orang ketiga serba tahu. 7. Gaya Bahasa Gaya bahasa yang digunakan dalam novel Arus Balik menggunakan gaya bahasa yang sederhana, ringan dan mudah di pahami oleh semua kalangan. 8. Amanat Amanat yang terkandung dalam novel Arus Balik adalah bagaimanapun untuk menjadikan nusantara ini damai adalah dengan persatuan bangsa. Dimana setiap kerajaan bisa bersatu padu untuk melawan musuh yang sebenarnya yaitu penjajah. Unsur Ekstrinsik Novel Arus Balik Berikut merupakan unsur ekstrinsik yang terdapat dalam novel Arus Balik, diantaranya yaitu 1. Nilai Sosial Nilai sosial yang terkandung dalam novel Arus Balik ini yaitu ketika Idayu dan Galeng yang merawat Rama Cruling yang tengah sakit karena di racun oleh kepala desa. Mereka merawat dengan setulus hati dan menguburkan jasad Rama Cruling hingga beres. 2. Nilai Moral Sikap saling bunuh membunuh pada saat itu seakan merupakan hal yang lumrah siapa yang kuat dia yang akan menang. Sehingga tidak adanya kemanusiaan yang bisa menjadi kedamaian. Sikap Galeng yang sangat berani dan luar biasa dengan pengabdiannya untuk adipati, bangsa dan negaranya ia kembali menjadi petani di pedalaman Tuban. Kelebihan Novel Arus Balik Memberikan pengetahuan tentang sejarah pada masa awa abad XVI Memberikan semangan nasionalisme Bahasa yang ringan dan mudah dipahami Banyak pesan moral yang terkandung dalam novel Setiap tokoh karakternya kuat terutama tokoh utama. Kekurangan Novel Arus Balik Terlalu panjang hingga mencapai 760 halaman. Bagi yang tidak suka dengan cerita yang terlalu panjang akan merasa jenuh. Ada beberapa kesalahan cetak dan tidak sesuai EYD. Pesan Moral Novel Arus Balik Terakhir dari resensi novel Arus Balik yaitu pesan moral yang terkandung adalah bagaimanapun untuk menjadikan nusantara ini damai adalah dengan persatuan bangsa. Dimana setiap kerajaan bisa bersatu padu untuk melawan musuh yang sebenarnya yaitu penjajah.
Penulis Pramoedya Ananta Toer Penerbit Hasta Mitra Cetakan I, Agustus 1995 Tebal 760 halaman ISBN 979-8659-04-x Seperti biasa Pramoedya selalu menyentak’ para pembaca dengan karya-karyanya yang legendaris. Arus Balik menjadi satu contoh bagaimana ia bercerita tentang sejarah nusantara yang pernah berjaya sebagai peradaban maju diantara negeri-negeri di dunia lewat kejayaan Majapahit. Lewat jalur kemaritiman lah Majapahit dapat bercerita bagaimana sebuah kejayaan atas negeri Atas Angin dapat dikuasai dengan tersebarnya pengaruh, citra, budaya, dan perdagangan. Hal ini digambarkan oleh Pram dengan arus yang bergerak dari penjuru selatan Nusantara ke arah utara Atas Angin. Hal ini terus berlangsung ketika Majapahit dapat menguasai perairan nusantara dengan kegagahan armada maritimnya yang dipersenjatai cetbang yang terkenal kemahsyurannya serta kesatuan nusantara atas sumpah palapa yang terkenal dari mahapatih gajah madanya. Namun segala kejayaan tersebut perlahan runtuh ketika majapahit hancur karena kerusakan dari pemberontakan-pemberontakan yang terjadi di dalamnya. Hal ini menyebabkan kemerosotan hingga memutar balikan keadaan nusantara menjadi alas kaki negeri atas angin. Hal ini digambarkan oleh Pram dengan berubahnya arus dari selatan ke utara menjadi utara ke selatan. Dalam novel sejarah ini kita diajak menyelami bagaimana kesusahan yang terjadi ketika nusantara terpecah belah menjadi kerajaan-kerajaan kerdil dan kapal-kapal majapahit yang mahsyur karena megahnya ikut mengecil mengikuti mengerdilnya kerajaan-kerajaan yang ada. Pembaca pada awal mula dibawa menuju pedalaman Tuban yang menjadi tempat utama berjalannya cerita Arus Balik ini. Dikisahkan seorang bijak bernama Rama Cluring yang berkelana berkeliling desa untuk bercerita tentang kemahsyuran Majapahit dengan kapal-kapalnya serta cerita arus selatan-utara mendatangi sebuah desa bernama Awis Krambil. Dalam ceritanya ia mengutuk tentang perpecahan yang menjadikan Majapahit runtuh dan berbaliknya arus menjadi selatan-utara. Karena pengaruh kekuasaan Tuban dan ketakutan penduduk desa akan prajurit-prajurit Tuban, cerita Rama Cluring dianggap mereka sebagai satu malapetaka yang akan membuat desa mereka dihancurkan oleh para prajurit Tuban. Maka Rama Cluring dikucilkan oleh penduduk desa dan diusirnya dari desa Awis Krambil. Namun ada sepasang muda yang setia mendengarkan Rama Cluring, mereka adalah Galeng dan Idayu, yang kelak akan menjadi tokoh utama dalam cerita ini. Galeng adalah pemuda desa yang ahli dalam bergulat, bahkan telah memenangi kejuaran gulat yang diadakan kerajaan Tuban. Idayu tak kalah hebat, ia adalah pemegang juara bertahan penari seantero Tuban, konon tak ada yang bisa mengalahkannya dalam hal menari maupun kecantikan, seantero Tuban! Singkat cerita Galeng dan Idayu kembali mengikuti kejuaraan gulat dan tari di Tuban mewakili desa Awis Krambil. Kemenangan ditangan mereka dan mereka dihadiahi pernikahan mewah oleh kerajaan Tuban. Sekaligus Galeng diterima sebagai pegawai kerajaan Tuban untuk mengurusi adipati Tuban. Galeng diamanahi sebagai syahbandar-muda membantu Thalib Sungkar Az-Zubaid, peranakan Moro, Syahbandar Tuban menggantikan Rangga Iskak. Rangga Iskak kelak setelah terusir dari Tuban menjadi Kiai Benggala atau Sunan Rajeg, pemberontak Tuban yang berambisi membalas dendamnya pada Tuban karena telah mengusirnya dari Kesyahbandaran. Idayu mengikuti suaminya tinggal dalam Kesyahbandaran bersama syahbandar Tuban. Pada cerita ketika Galeng meninggalkan idayu untuk menumpas pemberontakan oleh Sunan Rajeg, syahbandar Tuban, Thalib Sungkar Az-Zubaid, membius idayu dan menyetubuhinya hingga Idayu mengandung. Hal ini diketahui Galeng dan membuat Idayu hina diri hingga meminta suaminya untuk membunuh ia dan bayi yang lahir dari rahimnya. Namun karena cinta Galeng pada Idayu akhirnya ia tidak membunuh istrinya melainkan merawat anak itu hingga besar. Ketika Galeng sedang berusaha menumpas pemberontakan Sunan Rajeg, terjadi kegaduhan yang menyebabkan ia membunuh Senapati Tuban dan mengikrarkan dirinya sebagai Senapati Tuban yang baru. Atas kecerdikannya dalam berperang melawan pemberontak Sunan Rajeg akhirnya ia dapat menumpas pemberontakan tersebut. Sebelumnya terjadi peristiwa bahwa Malaka telah berhasil direbut oleh Peranggi, negeri atas angin yang berambisi menguasai dunia. Peranggi mahsyur dan terkenal karena kapal-kapalnya serta senjata yang mereka punyai yaitu meriam. Diceritakan cetbang yang membawa Majapahit pada kemahsyuran pun berlutut pada meriam milik Peranggi. Karena keserakahan dan ancaman Peranggi terhadap Nusantara akhirnya dari kerajaan Demak melalui musafir-musafirnya menyiarkan kabar untuk persatuan Nusantara dalam melawan Malaka. Adipati Unus Jepara lah yang bermaksud untuk mengusir Peranggi dari Malaka, dari Nusantara. Usaha pertamanya mengalami kegagalan karena meriam Peranggi dan yang paling utama berkhianatnya Adipati Tuban kepada Demak dengan telat mengirim pasukannya saat menggempur Malaka. Hal ini menyebabkan Adipati Unus Jepara luka parah terkena serpihan cetbangnya sendiri. Singkat cerita Adipati Demak, Adipati Patah meninggal dunia dan digantikan oleh Adipati Unus Jepara. Masih dalam pendiriannya bahwa untuk memperbaiki Nusantara satu-satu jalan adalah menghalau Peranggi dari Malaka ia menyerukan seluruh kerajaan di Nusantara untuk bersatu melawan Peranggi. Ia dirikan galangan besar di Jepara untuk menghasilkan kapal-kapal perang besar. Kurang lebih 70 buah kapal perang yang disiapkan untuk menghalau Peranggi dari Malaka. Naas sebelum hal itu terwujud, Adipati Unus wafat dibunuh oleh saudara kandungnya sendiri Sultan Trenggono. Sultan Trenggono lebih bernafsu untuk menguasai Jawa daripada menghalau Peranggi dari Malaka. Maka seluruh kekuatan yang telah dibangun pada zaman Adipati Unus dialihkan untuk menguasai Jawa dengan bantuan Sultan Fatahillah, pangeran Pasai yang terbuang ketika Pasai jatuh ketangan Peranggi. Karena kerakusan ini Demak tidak lagi dipercaya oleh kerajaan-kerajaan di Nusantara dan bantuan dari mereka tak lagi datang pada kerajaan Demak. Ditambah lagi pengkhianatan Demak terhadap gabungan pasukan Aceh-Tuban-Makasar yang sudah berjalan menuju Malaka. Saat itu Demak malah berbelok untuk menguasai Pajajaran dan Sunda Kelapa yang ada di Jawa sebelah Barat. Dalam kisahnya Sultan Fatahillah yang berhasil menguasai Sunda Kelapa dan menghalau Peranggi dari sana menamai daerah tersebut menjadi Jayakarta. Demak semakin mendesak Jawa dan mulai mengarah ke Timur Jawa. Tuban menjadi target utama karena pada saat itu Tuban menjadi bandar besar yang penting pada pelayaran di Jawa Timur. Maka penyerangan dilaksanakan, Demak berhasil menguasai Tuban dan Adipati Tuban wafat tepat sebelum Demak menguasai Tuban. Hanya dalam beberapa hari Tuban mampu membalikan keadaan melalui Patihnya. Namun disaat Tuban telah kelelahan menghalau Demak dari daerah kekuasaannya, Peranggi datang dan mengusir Tuban hingga pergi dari tanahnya sendiri. Disaat inilah Galeng yang telah dianugerahi gelar Senapati Wiranggaleng melancarkan serangan balasan dengan siasat baru yang belum pernah dilakukan selama peperangan yang ada di Jawa, menyerang ketika malam hari. Penyerangan itu sukses dan Tuban kembali di tangan kerajaan Tuban. Hal ini menjadi kemenangan bagi penduduk serta prajurit Tuban. Tuban yang dalam keadaan kekosongan kekuasaan menginginkan Senapati Wiranggaleng menjadi Adipati Tuban, namun dia menolak. Lalu ia mengucapkan kata-kata mahsyur yang ia dapat dari gurunya Rama Cluring. “Dahulu, di jaman kerajaan Majapahit, arus bergerak dari selatan ke utara, dari antara bangsa-bangsa beradab di muka bumi ini. Kapal-kapalnya, muatannya, manusianya, amal dan perbuatannya, cita-citanya-semua, itulah arus selatan ke utara. Segala-galanya datang dari selatan. Majapahit jatuh. Sekarang orang tak mampu lagi membuat kapal besar. Kapal kita makin lama makin kecil seperti kerajaannya. Karena, ya, kapal besar hanya bisa dibikin oleh kerajaan besar. Kapal kecil dan kerajaan kecil menyebabkan arus tidak bergerak ke utara, sebaliknya, dari utara sekarang ke selatan, karena Atas Angin lebih unggul, membawa segala-galanya ke Jawa, termasuk penghancuran, penindasan, dan penipuan. Makin lama kapal-kapal kita akan semakin kecil untuk kemudian tidak mempunyai sama sekali.” Karena kesadaran akan ketidak-mampuanya ia hanya menitipkan pesan tersebut kepada para kepala prajurit Tuban. Ia menyangsikan bahwa kemenangan Tuban mengusir Peranggi bukanlah sebuah kemenangan yang sesungguhnya. Namun mengusir Peranggi dari Malaka, dari Nusantara adalah sebuah kemenangan yang sesungguhnya dan ia tidak menyanggupi hal tersebut. Ia menekankan hal tersebut kepada para kepala prajuritnya, dan jika hal itu tidak tercapai selamanya Nusantara akan berada dalam kuasa negeri Atas Angin tersebut. Wiranggaleng pergi ke pedalaman bersama istrinya Idayu serta anak aslinya Kumbang. Ia menjadi sesuatu yang diimpikan bersama istrinya selama ini, petani yang tenang menjalani hidup apa adanya tanpa ada kegusaran akan dunia. Namun pada lubuk hatinya, Galeng tetap menyimpan perasaan tidak nyaman akan keberadaan Peranggi di Nusantara dan pengusiran dari Malaka adalah suatu hal yang harus. Arus Balik mengajari kita bagaimana kekuatan maritim adalah kunci utama Nusantara dapat berjaya, membawa arus selatan ke utara. Persatuan Nusantara dalam satu bendera juga menjadi hal mutlak untuk mewujudkan hal tersebut. Keserakahan Sultan Trenggono untuk menguasai Jawa adalah pelajaran bahwa keserakahan malah akan membikin kehancuran pada diri sendiri. Pram menyajikan novelnya sungguh baik, hampir lengkap bahkan. Dengan detil cerita serta konflik antar tokoh yang membuat rasa penasaran terus membuncah, serta bumbu-bumbu pengkhianatan hingga cinta yang ada membuat Arus Balik tidak hanya menjadi Novel Sejarah Nusantara namun menjadi satu Novel yang menceritakan bagaimana kehidupan pada zaman itu. Adat-adat setempat yang ada serta masuknya pengaruh agama baru dalam tatanan masyarakat disajikan dengan rapih. Arus Balik menceritakan semua itu, membuat karya legendaris Pram ini wajib dibaca oleh masyarakat Indonesia, terkhusus generasi mudanya. Nusantara yang dulu menjadi hulu dunia, berbalik menjadi hilir karena perpecahan dan kelupaannya terhadap kekuatan maritim yang begitu penting, menjadi tamparan’ bagi Indonesia sekarang. Intisari Arus Balik sesuai dengan apa yang terjadi saat ini dan harus bisa menjadi pelajaran yang berharga untuk Indonesia. Dan pertanyaannya adalah akankah Nusantara terus menjadi hilir dunia ataukah Arus akan berbalik kembali dari Selatan menuju Utara? 16 Januari 2017 Lampung
Sinopsis Novel Arus Balik Karya Pramoedya Ananta Toer - Selamat siang, selamat berjumpa lagi dengan blog MJ Brigaseli. Pada kesempatan kali ini saya akan berbagi sinopsis novel Arus Balik karya Pramoedya Ananta Toer yang diterbitkan oleh Hasta Mitra pada tahun 1995. Arus Balik adalah sebuah epos pasca kejayaan Nusantara sebagai kekuatan dan kesatuan maritim pada awal abad 16. Arus Balik mengisahkan tentang sebuah arus yang berbalik. Setelah keruntuhan kerajaan Majapahit 1478 M membuat arus Nusantara yang dahulunya merupakan mercusuar dari Selatan yang selalu mendominasi Utara, akhirnya harus menerima kenyataaan bahwa arus yang selama ini berjalan, telah berbalik. Hingga pada akhirnya Indonesia dan sekitarnya Nusantara saat itu harus menerima kenyataan sekian abad lamanya terjajah. Pada awalnya Nusantara sebagai wilayah selatan Asia mampu menjadi mercusuar peradaban dunia dengan kerajaan yang maha besarnya, Majapahit, yang kekuasaannya tersebar hingga Tumasik sekarang Singapura, Malaya Malaysia, dan beberapa negera ASEAN lainya, namun itu hanyalah dongengan belaka bagi masyarakat Nusantara waktu itu sekitar tahun 1251 M. Kerajaan Majapahit sudahlah hancur dalam perang saudara tak berkesudahan, wafatnya sang Mahapatih Sakti Mandraguna Gajah Mada menjadi titik awal, kemudian berturut-turut peristiwa menggrogoti kerajaan ini, dan akhirnya lenyap setelah kedatangan agama Islam. Setelah itu Arus pun berbalik, kerajaan-kerajaan yang dahulunya berada dalam kekuasaan Majapahit akhirnya melepaskan diri. Para keturunan bangsawan Majapahit pun lebih memilih konsentrasi pada wilayah kekusaaan yang tersisa, termasuk Adipati Tuban, Adipati Arya Teja Tumenggung Wilwatikta. Tidak seperti nenek moyangnya yang selalu ambisius melebarkan sayap kekuasaan, Wilwatikta tidak berhasrat sama sekali untuk memperluas kekuasaannya. Tapi, masa depan Tuban akan berubah drastis bukan saja bergeraknya arus dari eksternal kedatangan Portugis dan internal hadirnya Demak yang ambisius, namun yang lebih penting munculnya sosok Galeng pemuda desa yang hadir dalam hingar bingar arus tersebut dengan cemerlangnya wibawa dan mahirnya memikat hati masyarakat sekitarnya lewat kemahiran silatnya. Idayu dan Galeng adalah pemuda desa yang berasal dari keturunan rakyat biasa. Di desanya, mereka sering mendengarkan ceramah Rama Cluring seorang guru pembicara yang kerjanya berpetualang dan berbicara di setiap tempat yang disinggahinya. Isi ceramah Rama Cluring yang selalu hidup di pikiran mereka adalah tentang melawan kemerosotan dan tentang persatuan Nusantara. Inilah yang kemudian jadi dasar bagi Galeng dalam menjalankan tugas negara. Materi tentang kemerosotan yang sering disinggung Rama Cluring adalah kemerosotan kaum ningrat dan kemerosotan rakyat. Saat membicarakan kedua hal tersebut, tidak jarang sampai mengkritik adipati, hal yang setengah mustahil dilakukan waktu itu. Karena kritikannya itu, Rama Cluring diracun oleh kepala desa. Sebelum meninggal, Galeng dan Idayu-lah yang mengurusnya. Ketika kembali diadakan berbagai kejuaraan di Tuban, kepala desa berniat mengirimkan Galeng dan Idayu yang sudah dua kali berturut-turut mendapatkan juara. Semula mereka menolak, namun karena ancaman kepala desa atas perbuatan mereka yang menolong Rama Cluring, akhirnya mereka bersedia ikut. Mereka menjadi juara untuk ketiga kalinya, Idayu menjadi juara tari dan Galeng menjadi juara gulat. Sebagai juara tiga kali berturut-turut, Idayu terkena aturan khusus, yaitu harus menjadi selir adipati. Mengetahui hal itu, Idayu dan Galeng sangat sedih. Sebagai juara, Idayu diperbolehkan mengajukan permintaan kepada adipati. Permintaan yang diajukannya adalah agar dirinya dinikahkan dengan Galeng. Adipati Tuban marah, tangannya memegang keris. Namun, dihentikannya karena kesadaran bahwa seluruh rakyat Tuban mencintai Idayu. Patih Tuban menunjukkan dukungannya atas Idayu dan Galeng, begitu juga hadirin yang lain. Adipati Tuban akhirnya meluluskan permintaan Idayu, tidak hanya itu, Galeng dan Idayu dinikahkan di kadipaten, menjadi pengantin kerajaan. Tidak lama berselang, Galeng diangkat menjadi Syahbandar Muda Tuban. Salah satu tugasnya adalah mengawasi Syahbandar Tuban yang dicurigai punya hubungan dengan Portugis. Tidak hanya itu, kemudian Galeng diangkat menjadi Kepala Angkatan Laut Tuban. Sebagai kepala angkatan laut, tugas pertama yang diembannya adalah bergabung dengan Adipati Unus, melakukan penyerangan terhadap Portugis di Malaka 1512-1513 M. Walaupun ikut berangkat, Galeng tidak ikut bertempur karena Adipati Tuban sengaja memperlambat keberangkatannya, agar namanya tidak hancur di mata Jepara dan kerajaan lain dan juga tetap baik di mata Portugis. Galeng hanya menemukan armada Adipati Unus pulang dalam keadaan hancur. Bahkan, Adipati Unus sendiri menderita luka di sekujur tubuhnya. Beberapa waktu kemudian, tersiar kabar bahwa mantan Syahbandar Tuban yang tidak rela dengan penggantiannya, menggalang kekuatan di Desa Rajeg. Tidak hanya itu, aktivitasnya sudah menunjukkan akan melakukan penyerangan terhadap Tuban. Atas berita ini, Patih Tuban berusaha menggerakkan tentara yang cukup besar. Namun, Adipati Tuban tidak pernah berkenan, dia hanya mengizinkan untuk memberangkatkan lima ratus orang tentara. Karena tindakan adipati ini, ditambah penghinaan yang sering diterimanya, Patih Tuban menjadi patah semangat. Melihat tidak ada niat pada Patih-Senapati Tuban untuk memberantas pemberontak, Galeng terpaksa membunuhnya dan mengambil alih semua tentara. Kadipaten dikosongkannya, adipati dijauhkan dari kekuasaan agar tidak mengganggu rencananya. Dalam waktu tidak terlalu lama, tentara Rajeg berasil dihancurkan. Setelah mendapatkan kemenangan yang gemilang, Galeng kembali menyerahkan kekuasaan pada adipati. Namun, Adipati Tuban tidak menerima tindakan Galeng yang dianggapnya lancang. Hanya karena dukungan dari para pemimpin pasukan lain—ditambah pengetahuan adipati bahwa semua rakyatnya mencintai Galeng dan Idayu—dia bisa terbebas dari hukuman mati. Akhirnya tindakan terkeras yang dapat dilakukan adipati hanyalah mengusir Galeng dari Tuban. Sementara itu, Sultan Demak meninggal dan digantikan putra mahkotanya yang bernama Unus 1518 M. Keadaan Unus yang cidera membuat dia hanya bertahta selama tiga tahun. Walaupun begitu, dirinya sudah berusaha membangun angkatan laut yang besar, semua pendanaan dikerahkan ke Bandar Jepara, tempat pembuatan kapal-kapal perang yang besar. Sepeninggal Adipati Unus 1521 M, Trenggono naik tahta dengan cara membunuh Pangeran Seda Lepen yang berpotensi untuk menggantikan Unus. Atas desakan ibunya, Trenggono yang lebih mengutamakan pasukan kuda itu akhirnya bersedia menyerang Malaka. Fatahillah diangkat sebagai pimpinan pasukan lautnya. Sementara itu, pasukan kuda tetap berada di tangannya. Untuk melakukan penyerangan tersebut, Ratu Aisah sudah menjalin kerja sama dengan beberapa kerajaan. Seperti pada penyerangan pertama 1512-1513, Tuban ikut serta. Oleh karena itu, Galeng dipanggil kembali ke Tuban untuk bergabung dengan Demak menyerang Malaka. Adipati mengutus Patih Tuban yang baru Kala Cuwil Sang Wirabumi untuk menjemputnya. Pada penyerbuan kali ini Demak yang dipimpin Fatahillah berkhianat dengan melakukan penyerangan terhadap Jawa dari arah Barat. Sementara itu, pasukan kuda yang dipimpin oleh Trenggono melakukan penyerangan terhadap Jawa bagian timur. Seperti kerjaan-kerjaan lain, Tuban pun tidak lepas dari serangan Demak, hanya dengan usaha keras dan sikap pantang menyerah sajalah mereka berhasil mengusir kembali pasukan Demak. Galeng merasa usahanya tidak akan berhasil dengan sedikitnya jumlah pasukan dan persenjataan. Oleh karena itu, dia tidak marah kepada anak buahnya yang berubah menjadi petani bersenjata dan menikah dengan penduduk setempat. Setelah mengetahui bahwa Portugis melakukan penyerangan dan menguasai Tuban, Galeng beserta beberapa orang prajurit pulang ke Tuban. Dalam pimpinannya pasukan Tuban berhasil mengusir Portugis. Galeng adalah rakyat biasa dengan pengabdiannya yang luar biasa. Setelah mengabdi untuk adipati, bangsa, dan negaranya, dia kembali menjadi petani di pedalaman Tuban. Itulah tadi sinopsis novel Arus Balik karya Pramoedya Ananta Toer. Semoga bisa bermanfaat dan menghibur pembaca semuanya.